Optimalisasi Manajemen Tanam: Kunci Pengendalian Tungro di Kecamatan Tawalian, Mamasa
MAMASA – Tim gabungan dari Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Sulawesi Barat bersama Dinas Pertanian Kabupaten Mamasa, penyuluh pertanian, serta POPT setempat melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Tawalian pada Senin (26/1/2026). Kunjungan ini dilakukan guna merespons keluhan petani terkait serangan hama dan penyakit yang melanda persawahan padi di wilayah tersebut.
Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, ditemukan adanya serangan penyakit Tungro yang cukup masif pada varietas Inpari 32, yang ditandai dengan gejala tanaman kerdil dan perubahan warna daun menjadi kuning oranye. Selain Tungro, tim juga mengidentifikasi adanya penyakit Blast serta fenomena bulir hampa pada sebagian pertanaman yang ditanam pada bulan November 2025.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai kualitas benih, tim teknis menegaskan bahwa serangan ini bukan disebabkan oleh varietas Inpari 32 yang dianggap buruk. Fakta menunjukkan bahwa padi varietas lokal pun turut terdampak serangan serupa. Penyakit ini merebak lebih dikarenakan faktor anomali cuaca dan ketidaktepatan waktu tanam. Merujuk pada data SID Kabupaten Mamasa, periode November hingga Desember merupakan puncak curah hujan tinggi, di mana saat itu tanaman padi masih berada pada fase vegetatif awal yang sangat rentan terhadap infeksi virus melalui vektor wereng hijau.
Tim teknis juga mengungkapkan bahwa wilayah tersebut sejatinya telah menjadi daerah endemik Tungro, sehingga pengelolaannya tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus komprehensif. Selain penggunaan varietas tahan, kunci pengendalian lainnya terletak pada pemupukan yang berimbang. Petani sangat disarankan untuk tidak memberikan pupuk Nitrogen (N) secara berlebihan, karena kadar Nitrogen yang terlalu tinggi dapat membuat jaringan tanaman menjadi lebih sukulen (lunak) dan lebih disukai oleh serangga vektor.
Selain faktor nutrisi, tim menyoroti sistem budidaya Tabela (Tanam Benih Langsung) dengan cara dihambur yang membuat populasi tanaman menjadi terlalu rapat. Kondisi ini menciptakan lingkungan mikro yang lembap, yang menjadi habitat ideal bagi perkembangan patogen. Keterbatasan alat mesin pertanian seperti hand tractor juga menjadi kendala petani untuk melakukan tanam serempak, sehingga siklus hidup hama terus berlanjut karena ketersediaan pakan yang selalu ada.
Sebagai langkah solutif, tim merekomendasikan pengaturan waktu tanam yang tepat berdasarkan data curah hujan. Targetnya, pada saat puncak curah hujan terjadi, tanaman padi seharusnya sudah memasuki fase generatif yang memiliki daya tahan lebih kuat dibandingkan fase vegetatif. Di samping itu, perlu dilakukan eradikasi atau pemusnahan sisa tanaman yang sakit melalui musyawarah bersama seluruh kelompok tani secara serempak agar virus tidak berpindah ke lahan lainnya. Petani juga diimbau menjaga sanitasi lingkungan dengan membersihkan gulma serta menanam tanaman refugia guna melestarikan musuh alami seperti Tomcat dan capung jarum untuk menjaga keseimbangan ekosistem sawah.(SH)